23 April 2011

It Is Finished - Yoh 19:30


Segala hal yang pernah terjadi dan yang akan terjadi di dunia ini semuanya sudah dikerjakan diatas kayu salib, bahkan sebelum Golgotapun Yesus sudah menggenapi seluruh hukum Taurat, adanya Yesus seluruh Perjanjian Lama sudah digenapi. Sudah selesai (It is Finished) dalam bahasa Yunaninya dikatakan TETELESTAI yang artinya :
I. Seluruh nubuatan Perjanjian Lama berhubungan dengan kematian-Nya sudah selesai
II. Seluruh type dan typical nubuatan dalam Perjanjian Lama sudah selesai, berakhir dan menjadi jelas.
III. Seluruh ketaatan terhadap hukum Allah telah diselesaikan dalam
Kristus yang disalibkan.
IV. Seluruh kuasa Setan dan dosa telah selesai bagi umat Allah di kayu
Salib.
V. Seluruh keadilan Allah telah dipuaskan atas nama umat-Nya ketika

Kristus mati di kayu Salib.
Menebus artinya “membeli sesuatu kembali”. Yesus Kristus dating dan disalib untuk membeli kita kembali dari perbudakan dosa. Mungkin kita berpikit bahwa kita adalah orang yang cukup baik dan tidak merasa diperbudak oleh dosa. Namun bagaimanapun nampaknya moral seseorang, setiap manusia memiliki sifat dosa (Roma 3 :23).
Untuk membebaskan kita, harganya harus dibayar. Namun kepada siapa ? Yesus tidak membayar kepada iblis, Ia membayar harga yang dituntut Allah untuk menyatakan keadailanNyayang kudus. Yehezkiel 18:20. Orang yang berbuat dosa harus mati. Harga penebusan kita adalah darah Anak Allah yang mahal dan Ia melakukan pengorbanan ini menggantikan tempat kita.
Oleh karena Bapa menerima harga yang Kristus bayarkan, kita dibebaskan dari perbudakan dosa dan menerima Kuasa Roh Kudus yang memampukan kita untuk hidup dalam kebebasan untuk taat kepada Bapa.
Dan bagaimana dengan kehidupan kita secara pribadi setelah alami penebusan dosa ? Apakah kita masih tinggal dalam dosa dan menyia-nyiakan Kasih Karunia Tuhan yang sudah dikerjakan di kayu salib ? Ingat bahwa sekalipun kasih karunia diberikan dengan cuma-cuma namun harganya tidak murah. Tuhan membayar dengan harganya mahal untuk menghasilkan berkat buat kita. Hidup adalah sebuah misteri. Tidak sedikit orang yang seumur hidupnya mencari arti kehidupan, tetapi tidak bisa menemukannya. Melalui peringatan hari Jumat Agung, kita akan menyadari arti hidup yang sejati di dalam Tuhan Yesus. Kita akan belajar tentang arti hidup yang sudah diselesaikan oleh Tuhan Yesus di kayu salib melalui penebusanNya. Yakobus 1:1-18.

I. Hidup itu hanyalah sementara. “Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (Yak.4:14). Pada suatu saat hidup akan berakhir. Pertanyaannya adalah, akankah hidup yang sementara itu akan berakhir sia-sia? Yesus mati untuk dosa-dosa kita, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal. Itulah arti hidup yang berarti bagi Yesus. Dari peristiwa itu, kita belajar bahwa jaminan hidup kekal adalah ketaatan pada kehendak Allah.

Kata kunci pada ayat yang pertama adalah hamba Allah, atau “born servant” (Inggris). Yang dimaksud hamba adalah seorang yang melakukan kehendak tuannya. Seorang hamba tidak memiliki hak atas apa pun, bahkan hidupnya. Manusia lahir dan mati tanpa membawa apa-apa. Hal ini menegaskan kembali bahwa kita ini sebenarnya adalah seorang hamba.

Hamba Allah tidak berbicara tentang menjadi pendeta atau pengerja penuh waktu di gereja. Setiap orang yang percaya pada penebusan Kristus, menjadi milik Yesus sepenuhnya. Ia adalah hamba Yesus dan tugasnya adalah melakukan kehendak Yesus, Sang Tuan, sepenuhnya. Tapi ingatlah, bahwa hamba di sini bukanlah hamba sembarang hamba, tapi hamba dari Allah yang adil dan penuh kasih. Allah yang murah hati akan memperhatikan dan menghargai setiap jerih lelah hambaNya.

Budaya Mesir kuno menyebutkan bahwa karena kesetiaan pada sang tuan, seorang budak akan mengikut kemana saja tuannya pergi, bahkan ketika tuannya mati. Karena ada anggapan tentang kehidupan setelah kematian, budak-budak itu sengaja dibunuh atau bunuh diri untuk menemani tuannya di alam baka. Jika hamba dunia saja tahu bagaimana harus setia kepada tuannya di dunia, apalagi seorang hamba Allah. Kebanggaan sejati adalah kebanggaan seorang hamba yang melakukan kehendak tuannya.

II. Hidup adalah ujian (Yak.2:2-8). Banyak orang tidak sadar akan hal ini sehingga mereka tidak pernah memperlengkapi diri. Hidup itu seperti orang mengikuti ujian. Untuk mencapai nilai maksimal, harus tekun mempersiapkan diri dan rajin belajar. Ayat yang menyebut “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan” adalah sesuatu yang tidak masuk akal menurut dunia. Bagaimana mungkin seorang yang menderita bisa berbahagia?!

Sebenarnya ayat tersebut mengatakan bahwa kebahagiaan yang dimaksud bukanlah sebuah reaksi emosional tetapi keputusan yang disengaja oleh karena melihat segala sesuatu dari kacamata Allah. Orang yang melihat ujian dari kacamata Tuhan, ia akan memutuskan untuk menang melalui ujian bersama Tuhan. Karena jika Tuhan mengijinkan suatu ujian terjadi atas diri seseorang, Dia pasti juga akan memperlengkapi orang tersebut untuk menang. Orang yang kalah dalam hidup ini adalah orang yang melihat hidup dari kacamatanya sendiri.

Ketekunan yang dimaksud adalah panjang sabar (long suffering), tidak terbawa arus, terus menunggu dengan aktif sampai Tuhan memberi kemenangan. Tekun ini bukan hampa, atau tanpa pengharapan, melainkan suatu kepastian karena sudah nyata 2000 tahun yang lalu ketika Yesus mati di kayu salib dan bangkit sebagai bukti kemenangan atas kuasa maut. Yesus telah menang, dan Ia masih hidup sampai sekarang untuk memberi kemenangan bagi orang yang percaya kepadaNya.

Jika kita terus tekun, maka kita akan menjadi sempurna. Sempurna yang dimaksud adalah iman yang berkembang secara sempurna (faith fully develop). Meski kita masih bisa jatuh dan gagal, tetapi Roh Kudus akan mendorong kita untuk terus bangkit dan menanjak lebih tinggi semakin serupa dengan karakter Kristus.

Untuk melihat sesuatu dari kacamata Allah, kita memerlukan hikmat dari Allah. Hikmat adalah pemahaman rohani atas sebuah situasi dalam hidup kita. Hikmat berbeda dengan teori positif thinking (berpikir positif). Berpikir positif berpusat dari diri sendiri, sedangkan hikmat berpusat pada kehendak Allah.

III. Hidup adalah kepercayaan (Yak.1:9-11). Hidup kita berharga di mata Allah. Hidup diberikan bukan untuk membebani manusia, atau untuk disia-siakan, tetapi sebuah tanggung jawab yang harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

Semua hal yang kita miliki adalah sebuah tanggung jawab yang dipercayakan Tuhan untuk menjadi berkat bagi orang lain. (Yang penting bukanlah berapa banyak berkat kaudapat, tapi berapa banyak dari berkat yang dipercayakan kaugunakan untuk memberkati (orang lain). Setiap orang diperlengkapi Tuhan untuk bisa menjadi berkat bagi orang lain. Untuk memberkati tidak harus melalui materi, tetapi bisa berupa senyuman dan perilaku yang menghargai dan menghormati.

IV. Hidup adalah tugas yang mulia. Tuhan Yesus bangkit untuk membuktikan bahwa ada kehidupan setelah kematian di dunia ini. Karena hidup adalah kepercayaan, maka ada tugas mulia di atas pundak kita, orang-orang yang dikuduskan Allah. Misi orang Kristen yang utama adalah mencari domba yang tersesat, dan membawa mereka kembali kepada Gembala Agung yang memimpin kepada hidup yang kekal.

Melalui peringatan Jumat Agung, kita menghayati kembali arti dan tujuan kematian Yesus bagi dunia. Dia mati supaya kita bisa memiliki hidup yang kekal. Sekarang waktunya bagi kita, hamba-hamba Allah, untuk mengabarkan kepada dunia bahwa keselamatan sudah datang dan ditawarkan. Jangan sampai terlewat atau terlambat menerimanya! Tuhan Yesus memberkati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selengkapnya di http://triwied77.blogspot.com Cara Membuat Menu Horizontal Pada Blogspot Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial