25 November 2011

Membantah Tuhan (Ayub 9; Efesus 3:18)

Setiap manusia memiliki ambang batas daya tahan kemampuan untuk dapat menerima setiap hal yang kurang menyenangkan dalam hidup ini. Apabila ambang batas itu terlewati maka muncullah karakter asli dari manusia tersebut yang tentunya penuh dengan kelemahan dan kekurangan. Reaksinya bisa berbeda-beda. Ada yang meresponinya dengan menangis tiada henti siang malam meratapi nasib. Ada yang meresponinya dengan mengamuk dan menghancurkan setiap benda yang ada didekatnya. Ada yang meresponinya dengan berdiam diri dan mengasingkan diri ke tempat yang sepi. Dan sebagainya.


Ayub adalah manusia biasa yang telah melewati ambang batas ketahanan pengendalian dirinya menghadapi situasi sulit dalam kehidupan. Beberapa bulan telah berlalu dan Ayub belum juga keluar dari kesulitan yang bahkan semakin menghimpit hidupnya tersebut. Keputusasaan mulai muncul dan di tengah-tengah keputusasaan tersebut Ayub mulai mempertanyakan atau lebih tepatnya lagi menuduh keputusan-keputusan Tuhan yang dianggapnya tidak bertanggung jawab.


“Yang memperbanyak luka-lukaku dengan tidak semena-mena” (Ayub 9:17). “Yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakan” (Ayub 9:22). “Bila cemeti Nya membunuh dengan tiba-tiba, Ia mengolok-olok keputusasaan orang yang tidak bersalah” (Ayub 9:23) adalah beberapa ayat yang menerangkan tentang kondisi hati Ayub yang telah melewati ambang batas tersebut. Bahkan seandainya dapat Ayub ingin membawa perkaranya dengan Tuhan ke pengadilan sehingga hakim bisa memutuskan siapakah yang benar di antara keduanya. Tetapi Tuhan bukanlah manusia sehingga dapat ditengahi oleh hakim.


Namun di tengah-tengah teriakan ketidakpuasannya tersebut pada akhirnya Ayub menyadari bahwa dia hanyalah manusia biasa yang tidak dapat menggugat keputusan apapun dari yang menciptakannya. Yang bisa dia lakukan pada akhirnya adalah pasrah dan berserah kepada Tuhan sambil terus memohonkan belas kasihan Tuhan terhadap semua dakwaan orang-orang yang mempersalahkan Ayub.
Ayub tetap merasa tidak bersalah atas perkaranya sehingga setiap saat dia siap berbicara tanpa rasa takut kepada Allah. Dia tidak pernah mengerti apa kesalahan yang telah diperbuatnya. Namun di atas semua itu pada akhirnya dia juga menyadari satu kenyataan bahwa Allah berkuasa melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya atas kehidupan Ayub.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selengkapnya di http://triwied77.blogspot.com Cara Membuat Menu Horizontal Pada Blogspot Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial